In Memoriam: CACUK SUDARIJANTO
Tuesday, June 10th, 2008Pendiri STT Telkom yang Sarat Prestasi
“CACUK SUDARIJANTO, meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra Jakarta,Kamis(10 juni 2004), pukul 17.21 WIB, akibat komplikasi penyakit ginjal dan darah tinggi.”
Demikian media massa waktu itu memberitakan pria kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, 29 Januari 1948, yang disebut banyak pengamat ekonomi sebagai sosok yang sepak terjang dan langkah-langkahnya fenomenal tersebut.Meninggalnya mantan Dirut PT Telkom(1988-1992) dan Kepala Bidang Penyehatan Perbankan Nasional(BPPN) periode 12 Januari-6 November 2000, serta Menteri Muda Urusan Percepatan Restrukturisasi Perekonomian Nasional Kabinet Persaruan Nasional era Presiden Abdurrahman Wahid(Gus Dur) tahun 2000-2001 dan Dirjen Pembinaan Usaha Kecil dan Menengah Departemen Koperasi-UKM(1998-1999) pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie itu, juga merupakan kehilangan besar bagi seluruh sivitas akademika STT Telkom.
Betapa tidak, Cacuk Sudarijanto-lah salah seorang yang berjuang keras mendirikan perguruan tinggi itu di tahun 1990 ketika dirinya menjabat Dirut Telkom. Sejak pendiriannya, Cacuk sangat menyadari bahwa perkembangan pesat teknologi komunikasi dan informasi mesti diimbangi dengan sumber daya manusia(SDM) yang mumpuni.
Memang sejak awal masuk Telkom menggantikan Willy Munandir, alumnus Teknik Pertambangn ITB(1973) tersebut memiliki perhatian ekstra tinggi terhadap pembangunan SDM melalui ,landmark strategy “Program 321″. Begitu memimpin Telkom, Cacuk langsung melalukan gebrakan-gebrakan yang membuat seluruh jajaran Telkom memiliki sense of urgency dan sense of crisis tinggi untuk berubah, sehingga memungkinkan roda transformasi BUMN tersebut bergulir cepat.
Saking pentingnya posisi Cacuk dalam keseluruhan proses tranformasi Telkom, seorang pengamat ekonomi yang melakukan riset tentang perjalanan transformasi BUMN telekomunikasi ini bahkan menyebut ayah lima anak hasil perkawinan dengan Titi Muktiani itu sebaga “Bapak Transformasi Telkom”. Cacuklah, katanya, yang berjasa mencairkan “kebekuan” dan status quo di Telkom,untuk kemudian menggulirkan berbagai perubahan hingga Telkom maju dan sedinamis sekarang.
Dia-lah yang membuka cakrawala baru masa depan BUMN in imenjadi badan usaha publik milik negara yang terbuka,transparan, dan menerapkan prinsip organisasi bisnis modern yang tanggap pada bermacam perubahan. “Cacuk adalah manusia langka di Indonesia.Sosok manager-leader yang jujur, berdesikasi, memiliki visi jauh ke depan(visioner), tegas, keras, dan berani mengambil risiko”, puji sang pengamat. Alhasil bukan berlebihan bila kemudia Cacuk Sudarijanto mendapat penghargaan mendapat penghargaan dari Lembaga Manajemen UI, lantaran dianggap berhasil meletakkan dasar-dasar manajemen modern bagi Telkom.
Berhasil melambungkan kinerja Telkom menjadi salah satu BUMN andalan di bidang layanan jasatelekomunikasi, mantan Dirut Bank Mega(1996-1998), Direktur Operasi Indosat(1980-1988), dan Direktur Operasional IBM Indonesia(1974-1980)itu berhenti dari Telkom setelah empat tahun menjabat.Posisinya sebagai Dirut digantikan Setyanto P.Santoso.
Menilik jasa-jasanya, Cacuk Sudarijanto yang sempat aktif dalam partai politik yang didirikannya, Partai Daulat Umat, pantas dikenang dan dihargai seluruh sivitas akademika STT Telkom, yang sekarang telah berganti nama menjadi Instintut Teknologi Telkom. Pasalnya, tanpa jasa Cacuk Sudarijanto sebagai pendiri STT Telkom, boleh jadi, STT Telkom tidak ada.
