Wednesday, July 23rd, 2008 |
Alhamdulillah setelah satu bulan indent akhirnya Mininote HP 2133 dapat diambil di Mangga Dua Mall. Waktu itu saya pesan saat Festival Kompputer Indonesia 2008 di JHCC. Pada review kali ini (walau ngereviewnya telat) saya akan menyampaikan kelebihan dan kekurangan Mini-Note ini, yang tentu saja menurut pendapat saya.

Baiklah, saya akan mulai dengan kelebihan dari Mini-Note:
- Casing Alumunium. Dari jauh sudah nampak keren. Kelihatannya kokoh dan tangguh
- Beratnya hanya 1 Kg lebih sedikit (1.19 kg) sehingga mudah untuk dibawa-bawa
- Keyboardnya sangat nyaman untuk mengetik. Ukuran keypadnya tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar alias sama seperti keyboard standard pada umumnya sehingga ngga ada cerita slip ketika mengetik.
- Tersedia slot PCMCIA sehingga memudahkan kita jika nanti akan menambah modem 3G ataupun tools lain yang berbentuk PCMCIA
- Kapasitas Harddisk 120 Gb. Sependek pengetahuan saya, sampai tulisan ini dibuat, inilah netbook yang paling besar kapasitas storagenya.
- Slot SD. Lumayanlah mempermudah kita untuk ngopi dari kamera digital.
- Bluetooth, wireless, webcam. Fitur ini dapat dikatakan standard.
- Touchpad yang agak unik. Dan ada fitur untuk menonaktifkan touchpadnya loh. Fitur ini sangat membantu ketika kita tidak mau diganggu oleh touchpad ketika mengetik. Maksudnya, kadang touchpad ini tidak sengaja tersentuh sehingga kusor kabur tak tentu arah dan walhasil ketikan jadi kacau.

-
Speakernya oke. Suaranya lumayan keras. Tentu saja speakernya tidak bisa dibandingkan dengan speaker premium seperti yang kamu punya. Tapi jika dibandingkan dengan speaker pada DELL Latitude saya yang jadul itu, tentu speaker Mini-Note inilah yang menang.
Kekurangan Mini-Note
-
Hanya tersedia 3 source boot.
# Boot from DVD/CDROM
# Boot from Harddisk
# NetBoot
Tidak tersedia boot from USB, sehingga memaksa kita untuk membeli (atau meminjam) optical drive external jika ingin install OS lain ataupun install ulang. Jika opsi tersebut tidak dipilih maka kita harus agak berkeringat dengan NetBoot, tentu saja akan beda cerita jika kamu sudah terbiasa dengan NetBoot.
- Tidak ada modem. Tidak seperti MSI Wind. Jadi harus ada modem tambahan jika kamu ingin ber-0809-89999. hehehe.
- OS-nya Vista. Tentu saja dengan memory bawaan sebesar 1Gb terasa tidak maksimal dengan OS ini. Ditambah lagi masih banyak software yang tidak mendukung. Mungkin ini salah satu yang membuat harga Mini-Note lebih mahal dibandingkan MSI Wind yang ber-OS XP ataupun Ocer One yang tanpa OS.
-
Ngga dapet tas. Terpaksa harus beli lagi tas notebook 9″
Klo ingin membandingkan dengan netbook lain, silakan baca juga
- http://tekno.kompas.com/read/xml/2008/07/21/10104341/netbook.revisi.ulang.fungsi.pda
- http://en.wikipedia.org/wiki/Comparison_of_subnotebooks
- http://tekno.kompas.com/read/xml/2008/05/15/0909479/mencobai.asus.eee.pc.900.si.mungil.yang.kian.nyaman
-
Saya juga nge-post di sini :p
Posted in Uncategorized | 5 Comments »
Tuesday, June 10th, 2008 |
Pendiri STT Telkom yang Sarat Prestasi
“CACUK SUDARIJANTO, meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra Jakarta,Kamis(10 juni 2004), pukul 17.21 WIB, akibat komplikasi penyakit ginjal dan darah tinggi.”
Demikian media massa waktu itu memberitakan pria kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, 29 Januari 1948, yang disebut banyak pengamat ekonomi sebagai sosok yang sepak terjang dan langkah-langkahnya fenomenal tersebut.Meninggalnya mantan Dirut PT Telkom(1988-1992) dan Kepala Bidang Penyehatan Perbankan Nasional(BPPN) periode 12 Januari-6 November 2000, serta Menteri Muda Urusan Percepatan Restrukturisasi Perekonomian Nasional Kabinet Persaruan Nasional era Presiden Abdurrahman Wahid(Gus Dur) tahun 2000-2001 dan Dirjen Pembinaan Usaha Kecil dan Menengah Departemen Koperasi-UKM(1998-1999) pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie itu, juga merupakan kehilangan besar bagi seluruh sivitas akademika STT Telkom.
Betapa tidak, Cacuk Sudarijanto-lah salah seorang yang berjuang keras mendirikan perguruan tinggi itu di tahun 1990 ketika dirinya menjabat Dirut Telkom. Sejak pendiriannya, Cacuk sangat menyadari bahwa perkembangan pesat teknologi komunikasi dan informasi mesti diimbangi dengan sumber daya manusia(SDM) yang mumpuni.
Memang sejak awal masuk Telkom menggantikan Willy Munandir, alumnus Teknik Pertambangn ITB(1973) tersebut memiliki perhatian ekstra tinggi terhadap pembangunan SDM melalui ,landmark strategy “Program 321″. Begitu memimpin Telkom, Cacuk langsung melalukan gebrakan-gebrakan yang membuat seluruh jajaran Telkom memiliki sense of urgency dan sense of crisis tinggi untuk berubah, sehingga memungkinkan roda transformasi BUMN tersebut bergulir cepat.
Saking pentingnya posisi Cacuk dalam keseluruhan proses tranformasi Telkom, seorang pengamat ekonomi yang melakukan riset tentang perjalanan transformasi BUMN telekomunikasi ini bahkan menyebut ayah lima anak hasil perkawinan dengan Titi Muktiani itu sebaga “Bapak Transformasi Telkom”. Cacuklah, katanya, yang berjasa mencairkan “kebekuan” dan status quo di Telkom,untuk kemudian menggulirkan berbagai perubahan hingga Telkom maju dan sedinamis sekarang.
Dia-lah yang membuka cakrawala baru masa depan BUMN in imenjadi badan usaha publik milik negara yang terbuka,transparan, dan menerapkan prinsip organisasi bisnis modern yang tanggap pada bermacam perubahan. “Cacuk adalah manusia langka di Indonesia.Sosok manager-leader yang jujur, berdesikasi, memiliki visi jauh ke depan(visioner), tegas, keras, dan berani mengambil risiko”, puji sang pengamat. Alhasil bukan berlebihan bila kemudia Cacuk Sudarijanto mendapat penghargaan mendapat penghargaan dari Lembaga Manajemen UI, lantaran dianggap berhasil meletakkan dasar-dasar manajemen modern bagi Telkom.
Berhasil melambungkan kinerja Telkom menjadi salah satu BUMN andalan di bidang layanan jasatelekomunikasi, mantan Dirut Bank Mega(1996-1998), Direktur Operasi Indosat(1980-1988), dan Direktur Operasional IBM Indonesia(1974-1980)itu berhenti dari Telkom setelah empat tahun menjabat.Posisinya sebagai Dirut digantikan Setyanto P.Santoso.
Menilik jasa-jasanya, Cacuk Sudarijanto yang sempat aktif dalam partai politik yang didirikannya, Partai Daulat Umat, pantas dikenang dan dihargai seluruh sivitas akademika STT Telkom, yang sekarang telah berganti nama menjadi Instintut Teknologi Telkom. Pasalnya, tanpa jasa Cacuk Sudarijanto sebagai pendiri STT Telkom, boleh jadi, STT Telkom tidak ada.
http://stttelkom.ac.id/index.php?id=257&no=203&idb=4
Posted in Uncategorized | No Comments »
Saturday, March 8th, 2008 |
Di pembahasan sebelumnya disebutkan bahwa alamat email kita harus mencerminkan diri kita. Kalau saya ingin menjadi “orang lain” atau saya ngga ingin dikenali sama orang lain berarti kita harus buat account baru lagi ya?
Jawabnya: Ngga juga J
Kini kita dapat membuat “alias” dari email kita. Sederhananya kita dapat buat “email samaran”.
Gunanya apa?
Gunanya adalah kita punya dua email dengan satu inbox. Jadi ngga perlu repot untuk membuka dua email untuk menbaca semua email tersebut. Langkahnya adalah sebagai berikut
-
Klik pada ID yahoo kamu di kiri atas. Nanti akan muncul halaman Yahoo Account info.
-
Klik pada “Edit/create Profile”. Nanti akan muncul lagi halaman yang baru:
Klik aja yang “Create New Public Profile”. Form isiannya ngga jauh beda sama form waktu daftar email pertama kali.
-
Kamu dapat menggunakan fitur ini ketika kamu akan mengirim email. Waktu kamu akan menulis email, kamu akan diminta untuk memilih email yang mana yang akan dijadikan si pengirim.
Ngga terlalu sulit kan
Posted in Uncategorized | 1 Comment »